Rabu, 25 Juli 2012

Rumah Adat Bugis (Referensi Tugas Kuliah)



RUMAH ADAT BUGIS


Rumah panggung bugis-Makassar

Rumah adat Karaeng Labakkang di Pangkep

Rumah khas Bugis Makassar untuk To Sama (Orang Kebanyakan) di Sulsel.

Rumah Tradisional Bugis Makassar yang sudah ditambahkan dinding bata pada kolong rumahnya.

Rumah Tradisional bangsawan tinggi di Wajo.


A.  Pengantar
Rumah Adat Bugis Makassar adalah rumah panggung kayu. Menurut Robinson (1993), Rumah Panggung kayu mewakili sebuah tradisi yang bertahan lama, tradisi yang juga tersebar luas di dunia Melayu. Bentuk dasar rumah adalah sebuah kerangka kayu dimana tiang menahan lantai dan atap dari berbagai bahan. Keanekaragaman bahan kian meningkat dalam dunia kontemporer setelah pendirian rumah menjadi kian dikomoditikan. Keunikan Rumah Bugis dibanding rumah panggung Sumatera dan Kalimantan adalah bentuknya yang memanjang ke belakang dengan tambahan disamping bangunan utama dan bagian depan (orang bugis menyebutnya lego – lego, makassar : dego - dego).
Rumah adat Bugis mencerminkan sebuah estetika tersendiri yang menjadikannya obyek budaya materil yang indah. Bagian – bagian utama rumah terdiri dari  Tiang utama (alliri), terdiri dari 4 batang setiap barisnya. Jumlahnya tergantung jumlah ruangan yang akan dibuat, tetapi pada umumnya, terdiri dari 3 / 4 baris alliri. Jadi totalnya ada 12 batang alliri,  Padongko, yaitu bagian rumah yang menjadi penyambung dari alliri di setiap barisnya, serta Pattoppo, yaitu bagian rumah yang menjadi pengait paling atas dari alliri paling tengah tiap barisnya.




Rumah Panggung kayu khas Bugis Makassar mengacu pada anutan kepercayaan bahwa alam semesta ini terdiri atas 3 bagian, bagian atas (botting langi), bagian tengah (alang tengnga / ale kawa) dan bagian bawah ( awa sao / peretiwi / bori liu). Itulah sebabnya rumah tradisional Bugis Makassar juga terdiri atas tiga bagian, yaitu  Rakkeang, bagian atap rumah. Dahulu biasanya digunakan untuk menyimpan padi yang baru di panen. Yang kedua, Ale Bola, yaitu bagian tengah rumah. dimana kita tinggal. Pada ale bola ini, ada titik sentral yang bernama pusat rumah ( posi’ bola ), dan Awa bola, yaitu bagian bawah rumah, antara lantai rumah dengan tanah.

Rumah dengan arsitektur berkolong rumah bagi banyak orang Bugis Makassar dipandang sangat aman dan nyaman, selain itu karena berbahan dasar kayu rumah ini dapat berdiri bahkan tanpa perlu satu paku pun. Semuanya murni menggunakan kayu. Uniknya lagi adalah rumah ini dapat di angkat / dipindah. Bentuk rumah orang Bugis Makassar haruslah persegi empat. Ini berhubungan dengan falsafah hidup Sulapa EppaE (atau Persegi empat).





Selain menganut konsep tentang alam / kepercayaan tentang pusat dunia atas, dunia tengah dan dunia bawah maka pada rumahpun ada pusat rumah yang disebut possi bola, yaitu salah satu tiang yang kedua dari depan dan terletak disamping kanan. Itu pula sebabnya mengapa pada upacara adat menre baruga (menre bola), sesajen - sesajen seringkali diletakkan di “possi bola” karena disitulah roh-roh (atau makhluk gaib) dianggap berkumpul, terutama jika ada kejadian dan peristiwa khusus dalam keluarga.

Terkait arah rumah, boleh saja memilih salah satu diantara empat penjuru mata angin. Tetapi setelah pengaruh Islam masuk maka timbullah anggapan baru, bahwa arah rumah yang paling baik ialah menghadap ke Timur yang berarti tampingnya berada di sebelah utara. Rumah yang menghadap ke selatan berarti tampingnya berada di sebelah timur. Karena ada ketentuan di kalangan masyarakat bahwa tidur di rumah itu, kepala harus ke bagian kanan rumah dan kaki mesti ke arah tamping (bagian kiri) dan tidak boleh ke arah Ka’bah (kiblat shalat). Dengan kata lain tidak boleh ke arah barat karena Ka’bah berada di sebelah barat.







B.  Kepercayaan dan Simbol – simbol tentang Rumah
Pada zaman dahulu, orang Bugis – Makassar memiliki kepercayaan bahwa letak rumah tempat tinggal diusahakan supaya berdekatan dengan tempat tinggal bekerja (sawah, ladang atau pantai) atau dekat dengan rumah famili / kerabat. Hal inilah yang menyebabkan timbulnya Kampung Pallaonruma dan Kampung Pakkaja, tetapi sekarang sudah tidak menjadi syarat lagi. Ciri yang menonjol pada sebagian besar orang Bugis Makassar adalah bahwa mereka selalu akan menetap dan menjadi penduduk asli di suatu tempat dimana mereka menggantungkan hidupnya. Mereka akan membangun disitu dan akan mati disitu pula. Hal ini sangat berhubungan dengan mata pencaharian mereka, seperti seorang petani akan bermukim atau membangun rumahnya dekat dengan lahan atau kawasan pertanian mereka. Petambak akan cenderung membangun rumahnya pada suatu lokasi yang tidak terlalu jauh dari kawasan empangnya.
Ruang dan simbolisme yang terlihat pada rumah tradisional merupakan fokus spiritual dan fisik bagi penghuninya, dengan asosiasi metafisik yang mencari vitalitas, perlindungan dan harmoni. Sebagaimana telah dijelaskan oleh Bourdieu, ‘ruang hunian’, terutama rumah, merupakan alat prinsipil dalam mengartikulasikan dan memahami struktur sosial. Pembagian ruang pada rumah menjadi sebuah ‘sistem klasifikasi nyata (yang) terus menerus melahirkan  dan mendorong prinsip – prinsip taksonomi yang mendasari semua ketentuan budaya yang arbitrer’.





Pada rumah Bugis, sentralitas ditandai oleh aliri posi, atau tiang pusar, yang menandai sumber sumange’, dan dihormati dalam ritual, sebagaimana totalitas pusat dan pinggir, dimana setiap sudut rumah ditandai dengan sesajen dan do’a.  Kehadiran roh penjaga pada tiang pusar juga terdapat dalam La Galigo dimana tiang pusat istana raja kerap menjadi fokus kegiatan dalam kisah epik tersebut. Tiang ini dihiasi saat ada upacara – upacara, tarian – tarian disajikan di sekitarnya, dan ketika dilakukan pelayaran antara Dunia Tengah dan Dunia Atas, muncul pelangi di tiang tersebut pada saat pelayaran dilakukan, sehingga menghubungkan dunia syurgawi dan dunia materi. Hingga sekarang, ketika berada di luar rumah, adalah hal lazim bagi orang – orang untuk mendapatkan perlindungan diri melalui penggunaan jimat – jimat yang dipakai atau dibawa untuk menghindari malapetaka dan dilepas setelah memasuki rumah.
Simetri dan keseimbangan dari pengaruh pencarian tatanan dan harmoni yang terdapat pada sulapa eppa’, dan skema fundamental lainnya yang dikaitkan terus menerus dan ditegaskan dalam wilayah sosial, politik, dan spiritual. Motif – motif mungkin muncul secara sadar dari pemahaman akan sulapa eppa’ dan posisi sosial, seperti halnya timpa laja’ bola (Makassar : timbassila balla’), jumlah jeluji jendela, motif – motif tertentu pada dinding rumah, walasuji, dan lain sebagainya. Motif ini mungkin belum menjadi refresentasi sadar dari konsep – konsep tersebut tetapi merupakan ekspresi dari sebuah logika kultural yang melingkupinya.

C.  Pemilihan Waktu Yang Baik
Waktu penyelenggaraan upacara ini disesuaikan dengan waktu yang baik menurut ketentuan adat untuk orang Bugis Makassar.  Pemilihan waktu baik sangat penting untuk memastikan hasil positif sebuah usaha.  Bentuk pengetahuan paling umum yang terkandung dalam kutika / pitika adalah metode – metode penentuan hari – hari baik untuk melakukan suatu kegiatan, termasuk mendirikan rumah. Dewasa ini, perhatian terhadap hari – hari dan waktu – waktu baik dan buruk di Sulawesi Selatan digunakan oleh banyak orang untuk kegiatan – kegiatan rutin seperti memulai perjalanan. Tetapi terutama digunakan untuk kegiatan – kegiatan penting seperti waktu pernikahan, atau tahapan dalam mendirikan rumah (Saing, 1982 atau Sunusi, 1969 menerangkan penggunaannya dalam pembangunan rumah).
Hamid (1994) mengaitkan konsep – konsep hari buruk dan hari baik dengan kepercayaan animisme, yang ia samakan dengan kepercayaan terhadap kesatuan manusia dengan hukum alam (sesuatu yang tersebar pada banyak masyarakat – masyarakat Austronesia) (lihat juga Waterson, 1993 ; Pigeaud, 1983). Manuskrip umumnya berisi daftar – daftar bulan dalam kalender Islam, dengan keterangan – keterangan apakah waktu – waktu tersebut baik untuk kegiatan – kegiatan tertentu, pendirian rumah dan pernikahan seringkali dihubungkan (yaitu, bulan baik untuk pernikahan biasanya juga baik untuk mendirikan rumah).
Manuskrip – manuskrip memberikan keterangan yang sama tentang bulan – bulan yang baik dan buruk, namun berbeda dalam meramalkan hasil atau akibat bagi sang empunya rumah, jika kegiatan itu diadakan para periode tersebut.
- Bulan Muharram bukan waktu baik untuk mendirikan rumah atau menyelenggarakan perkawinan. Sang empunya rumah akan selalu menderita.
- Bulan Safar bulan bagus untuk mendirikan rumah atau menyelenggarakan perkawinan. Sang empunya rumah akan selalu memperoleh keberuntungan.
- Rabi’ul – awal tidak baik untuk mendirikan rumah atau menyelenggarakan perkawinan. Sang empunya rumah akan selalu tertimpa musibah kematian.
- Rabi’ul akhir baik untuk mendirikan rumah atau menyelenggarakan perkawinan. Sang empunya rumah akan selalu memperoleh kebahagiaan.
- Jumadil awal baik untuk mendirikan rumah ; Sang empunya rumah akan selalu memperoleh keberuntungan.
- Jumadil akhir tidak baik untuk mendirikan rumah atau menyelenggarakan perkawinan. Sang empunya rumah akan sakit – sakitan dan dilanda kesulitan – kesulitan lainnya.
- Rajab bukan bulan baik untuk mendirikan rumah. Sang empunya rumah akan mati tertikam dan rumahnya akan terbakar.
- Sya’ban baik untuk mendirikan rumah dan menikah. Sang empunya rumah akan selalu memiliki kekayaan.
- Ramadhan baik untuk mendirikan rumah, juga menyelenggarakan perkawinan. Penghuni rumah akan selalu akrab dengan tetangganya dan akan memperoleh kebahagiaan.
- Syawal tidak baik untuk mendirikan rumah dan menyelenggarakan perkawinan. Sang empunya rumah akan tertikam dan rumahnya tidak akan pernah sempurna.
- Zulqa’idah baik untuk mendirikan rumah dan menyelenggarakan perkawinan. Sang empunya rumah akan selalu memiliki hubungan yang baik dengan tetangga – tetangganya.
- Zulhijjah baik untuk mendirikan rumah atau menyelenggarakan perkawinan. Sang empunya rumah akan memperoleh ketenteraman. Mereka akan memperoleh banyak emas.
D.  Upacara Adat Menre Bola
Jalannya Upacara naik rumah baru ini dilaksanakan pada hari yang telah ditetapkan tuan rumah untuk naik ke rumah baru. Upacara ini dipimpin oleh panrita bola atau sanro bola. Penyelenggaraan upacara diselenggarakan oleh tuan rumah yang dibantu oleh orang tua dari kedua belah pihak (suami isteri). Peserta Upacara  terdiri atas suami isteri, keluarga tuan rumah, tukang dengan kepala tukang (tetapi biasanya panitia itu juga mengepalai tukang  yang bekerja), dengan seluruh tenaga pembantunya serta tetangga – tetangga dalam kampung itu.



Tahap Upacara Makkarawa Bola.
Makkarawa Bola artinya memegang, mengerjakan, atau membuat peralatan rumah yang telah direncanakan untuk didirikan dengan maksud untuk memohon restu kepada Tuhan agar diberikan perlindungan dan keselamatan dalam penyelesaian rumah yang akan dibangun tersebut.  Tempat dan waktu upacara ini diadakan di tempat dimana bahan – bahan itu dikerjakan oleh Panre (tukang) karena bahan – bahan itu juga turut dimintakan doa restu kepada Tuhan. Waktu penyelenggaraan upacara ini ialah pada waktu yang baik dengan petunjuk panrita bola, yang sekaligus bertindak sebagai pemimpin upacara.
Bahan – bahan upacara yang harus dipersiapkan terdiri atas : ayam dua ekor, dimana ayam ini harus dipotong karena darahnya diperlukan untuk pelaksanaan upacara kemudian tempurung kelapa daun waru sekurang – kurangnya tiga lembar.  Tahap pelaksanaan upacara makkarawa bola  ini ada tiga, yaitu 1. waktu memulai melicinkan tiang dan peralatannya disebut makkattang, 2. waktu mengukur dan melobangi tiang dan peralatannya yang disebut mappa, 3. waktu memasang kerangka disebut mappatama areteng.
Setelah para penyelenggara dan peserta upacara hadir, maka ayam yang telah disediakan itu dipotong lalu darahnya disimpan dalam tempurung kelapa yang dilapisi dengan daun waru, sesudah itu darah ayam itu disapukan pada bahan yang akan dikerjakan. Dimulai pada tiang pusat, disertai dengan niat agar selama rumah itu dikerjakan tuan rumah dan tukangnya dalam keadaan sehat dan baik – baik, bila saat bekerja akan terjadi bahaya atau kesusahan, maka cukuplah ayam itu sebagai gantinya. Selama pembuatan peralatan rumah itu berlangsung dihidangkan Kue - kue tradisional seperti : Suwella, Sanggara, Onde-Onde, Roko - roko unti, Peca’ Beppa, Barongko dan Beppa loka, dan lain – lainnya.




Tahap Upacara Mappatettong Bola (Mendirikan Rumah).
Tujuan upacara ini sebagai permohonan doa restu kepada Tuhan Yang Maha Kuasa agar rumah yang didirikan itu diberkahi dan dilindungi dari pengaruh-pengaruh roh jahat yang mungkin akan menganggu penghuninya. Upacara ini diadakan di tempat atau lokasi dimana rumah itu didirikan, sebagai bentuk penyampaian kepada roh-roh halus penjaga – penjaga tempat itu bahwa orang yang pernah memohon izin pada waktu yang lalu sekarang sudah datang dan mendirikan rumahnya. Sehari menjelang dirikan pembangunan rumah baru itu, maka pada malam harinya dilakukan pembacaan kitab barzanji.
Adapun bahan – bahan dan alat – alat kelengkapan upacara itu terdiri tas : ayam ’bakka’ dua ekor, satu jantan dan satu betina. Darah kedua ayam ini diambil untuk disapukan dan disimpan pada tiang pusat rumah, ini mengandung harapan agar tuan rumah berkembang terus baik harta maupun keturunannya. Selain itu, Bahan – bahan yang ditanam pada tempat possi bola dan aliri pakka yang akan didirikan ini terdiri atas : awali (periuk tanah atau tembikar), sung appe (sudut tikar dari daun lontar), balu mabbulu (bakul yang baru selesai dianyam), penno-penno (semacam tumbuh-tumbuhan berumbi seperti bawang), kaluku (kelapa), Golla Cella (gula merah), Aju cenning (kayu manis), dan buah pala. Kesemua bahan tersebut diatas dikumpul bersama – sama dalam kuali lalu ditanam di tempat dimana direncanakan akan didirikan aliri possi bola itu dengan harapan agar pemilik rumah bisa hidup bahagia, aman, tenteram, dan serba cukup.
Setelah tiang berdiri seluruhnya, maka disediakan pula sejumlah bahan – bahan yang akan disimpan di possi bola seperti kain kaci (kain putih) 1 m, diikatkan pada possi bola, padi dua ikat, golla cella, kaluku (kelapa), saji pattapi (nyiru), sanru (sendok sayur), piso (pisau), pakkeri (kukur kelapa). Bahan – bahan ini disimpan diatas disimpan dalam sebuah balai – balai di dekat possi bola. Bahan ini semua mengandung nilai harapan agar kehidupan dalam rumah itu serba lengkap dan serba cukup. Setelah kesemuanya itu sudah dilaksanakan, barulah tiba saat Mappanre Aliri, memberi makan  orang – orang yang bekerja mendirikan tiang – tiang rumah itu. Makanan yangf disajikan terdiri atas sokko (ketan), dan pallise, yang mengandung harapan  agar hidup dalam rumah baru tersebut dapat senantiasa dalam keadaan cukup.  Tahap Upacara Menre Bola Baru (Naik Rumah Baru)
Tujuannya sebagai pemberitahuan tuan rumah kepada sanak keluarga dan tetangga sedesa bahwa rumahnya elah selesai dibangun, selain sebagai upacara doa selamat   agar rumah baru itu diberi berkah oleh Tuhan dan dilindungi dari segala macam bencana. Perlengkapan upacara yang disiapkan adalah dua ekor ayam putih jantan dan betina, loka (utti) manurung, loka /  otti (pisang) panasa, kaluku (kelapa), golla cella (gula merah), tebbu (tebu), panreng (nenas) yang sudah tua. Sebelum tuan rumah (suami isteri) naik ke rumah secara resmi, maka terlebih dahulu bahan  bahan tersebut diatas disimpan di tempatnya masing – masing, yaitu : (1) Loka manurung, kaluku, golla cella, tebu, panreng dan panasa di tiang possi bola. (2) Loka manurung disimpan di masing – masing tiang sudut rumah.
Tuan rumah masing – masing membawa seekor ayam putih. Suami membawa ayam betina dan isteri membawa ayam jantan dengan dibimbing oleh seorang sanro bola atau orang tertua dari keluarga yang ahli tentang adat berkaitan dengan rumah. Sesampainya diatas rumah kedua ekor ayam itu dilepaskan, sebelum sampai setahun umur rumah itu, maka ayam tersebut belum boleh disembelih, karena dianggap sebagai penjaga rumah. Setelah peserta upacara hadir diatas rumah maka disuguhkanlah makanan – makanan / kue – kue seperti suwella, jompo – jompo, curu maddingki, lana – lana (bedda), konde – konde (umba – umba), sara semmu, doko – doko, lame – lame. Pada malam harinya diadakanlah pembacaan Kitab Barzanji oleh Imam Kampung, setelah tamu pada malam itu pulang semua, tuan rumah tidur di ruang depan. Besok malamnya barulah boleh pindah ke ruang tengah tempat yang memang disediakan untuknya.
Tahap Upacara Maccera Bola.
Setelah rumah itu berumur satu tahun maka diadakanlah lagi upacara yang disebut maccera bola. “Maccera Bola” artinya memberi darah kepada rumah itu dan merayakannya. Jadi sama dengan ulang tahun. Darah yang dipakai maccera ialah darah ayam yang sengaja dipotong untuk itu, pada waktu menyapukan darah pada tiang rumah dibacakan mantra, “Iyyapa uitta dara narekko dara manu”, artinya nantinya melihat darah bila itu darah ayam. Ini maksudnya agar rumah terhindar dari bahaya. Pelaku maccera bola ialah sanro (dukun) bola atau tukang rumah itu sendiri.
Dapur Orang Bugis Makasar
Istilah dapur (tradisional) disini mencakup pengertian dapur sebagai ruang /bangunan, tempat menyimpan peralatan masak dan tempat berlangsungnya kegiatan makan minum. Eksistensi dapur ini timbul bersamaan dengan diketemukannya api oleh manusia. Dapur bagi orang Bugis-Makassar sangat dekat dengan proses dan eksistensi keluarga. Keluarga yang masih “hidup” dapat ditengarai dengan dapur yang masih berasap. Sebaliknya sebuah dapur yang sudah tidak berasap lagi menandakan bahwa keluarga pemilik dapur sudah mati.
Dapur tradisional Bugis-Makasar pada umumnya berbentuk segi empat, mengikuti filsafat orang Sulawesi Selatan yang disebut “Sulapa Eppa” yang artinya “Yang dianggap paling sempurna adalah yang bersegi empat”. Bentuk formasi bangunan untuk perletakan tungku ada yang terbuat dari kayu dan ada pula yang diletakkan diatas lantai rumah secara berdampingan. Bangunan dapur tradisional Bugis-Makasar ada yang bertingkat dua. Lantai atas digunakan untuk tempat menyimpan dan mengeringkan kayu bakar atau menyimpan peralatan dapur. Lantai bawah digunakan untuk memasak. Tungku masak yang digunakan kebanyakan masih menggunakan tiga batu yang diatur diatas lantai yang sudah diberi pasir atau tanah. Dalam satu dapur bisa berderet dua sampai tiga buah tungku. Bila masih memerlukan tungku lagi, dibuatlah tungku yang terpisah dengan dapur yang disebut dapo (Bugis) atau palu (Makasar) yang mudah dipindah-pindahkan.
Di beberapa daerah di Sulawesi bagian Selatan, palu yang mempunyai bentuk seperti perahu dengan tiga tatakan sangat dominan dipakai. Sedangkan untuk wilayah utara cukup bervariasi, diantaranya : formasi tiga batu, bentuk silinder, dua besi panjang sejajar, dan lain sebagainya. Dalam perkembangan selanjutnya, dapur tersebut bergeser ke ruang belakang dan dibuatkan bangunan tambahan khusus dibagian belakang atau bagian sebelah kiri bangunan induk. Bangunan khusus untuk dapur ini disebut Jongke atau Bola Dapureng. Jongke ini merupakan tempat pelaksanaan kegiatan penyediaan makanan dan minuman keluarga atau tamu, serta tempat untuk menyimpan makanan dan peralatan masak.

Dapur orang Bugis-Makasar [sesuai dengan pengetahuan lokal para nenek moyang mereka] diusahakan menghadap Utara atau Selatan. Jika dapur menghadap utara maka orang yang memasak akan menghadap ke Selatan, begitu pula sebaliknya. Hal ini dimaksudkan untuk menghindari asap dapur yang sangat dipengaruhi oleh angin musim yang bertiup dari arah barat atau timur. Hal ini masih dipengaruhi lagi oleh letak dan posisi dapur terhadap keadaan lingkungan sekitarnya, seperti daerah perbukitan/ pegunungan. Hal lain yang kurang diperhatikan adalah sistem ventilasi dapur, sehingga kondisi udara di dapur tidak sehat.
Pada umumnya peralatan dapur tradisional orang Bugis-Makasar dapat diklasifikasikan menurut jenis material peralatan tersebut :
a. Terbuat dari tanah liat: dapo/pallu (anglo), Oring tana/Uring buta (periuk), bempa/gumbang (tempayan), dan lain – lain.
b.  Terbuat dari logam yaitu: oring beddi/uring bassi (periuk), panci, ceret, pammutu bessi/pamja besi (wajan) piso/ lading (pisau), bangkung / berang parang), baki.
c. Terbuat dari bambu: pabberang api (peniup api), paccipi (penjepit), pattapi (niru), rakki (tempat mengeringkan bahan makanan), jamba (tempat nasi dari anyaman bambu).
d.  Terbuat dari kayu: dulang (tempat nasi), piring kayu.
e.  Terbuat dari tempurung kelapa: kaddaro innungeng/inungang (gelas tempurung), sinru kaddaro/si’ru kaddaro (sendok tempurung), piring kaddaro.
f.  Terbuat dari anyaman: assokkoreng (kukusan), baku-baku (bakul nasi), appanatireng santang(tapisan santan), paberesse/pa’berassang (tempat beras).
g.  Terbuat dari batu: pakungeng batu (lesu batu), accobereng/accebekang (cobek)


Fungsi dan Pandangan terhadap Dapur
Fungsi dapur juga mengalami perkembangan mengikuti budaya dan masyarakat. Fungsi dapur sekarang dapat disebutkan sebagai berikut :a.  Tempat untuk kegiatan penyediaan dan pengolahan makanan dan minuman untuk keluarga dan tamu. Disini perempuan memegang otoritas penuh atas ruang dan waktu.b.  Tempat menyimpan peralatan dan persediaan makanan dan minuman.c.  Tempat cuci dan pembuangand.  Tempat untuk sosialisasi awal bagi anak perempuan memasuki dunia perempuan serta mempererat hubungan kekerabatan dengan anggota keluarga lain atau tetanggae.  Tempat usaha : membuat kue, makanan dan minuman.
Sejalan dengan fungsi-fungsi dapur tersebut, tumbuh nilai-nilai atau norma yang harus dipatuhi oleh anggota masyarakat setempat. Misalnya, untuk menerima tamu (bukan famili), tidak melewati batas ruang tamu, apalagi masuk ruang dapur. Karena dapur merupakan rahasia keluarga / kehidupan rumah tangga, sehingga ruang dapur dibatasi hanya untuk kerabat dekat saja. Pemanfaatan dapur sebagai salah satu bagian rumah juga membawa nilai - nilai atau norma - norma yang harus ditaati. Oleh karena itu ada beberapa perilaku yang tidak boleh dilanggar karena dapat membawa bencana bagi siapa saja yang melanggarnya.
Beberapa pantangan tersebut adalah :
a.  Tidak boleh menginjak dapur (tungku), barang siapa menginjak tungku dia akan bersifat seperti kucing (dalam masalah seksual), artinya, orang yang suka menginjak dapur akan suka melanggar norma / nilai di bidang seks.
b.  Anak gadis tidak boleh menyanyi di depan dapur. Jika dilanggar dia akan bersuamikan orang tua atau mempunyai anak tiri.
c.  Pada saat seorang nelayan turun ke laut, api dapur tidak boleh padam. Hal ini dimaksudkan agar nelayan/suami tersebut selamat pergi dan pulang dari melaut.
d.  Pada musim pengolahan tanah, istri petani tidak boleh memberi api dapurnya kepada dapur tetangganya. Hal ini dilarang karena akan mengakibatkan padinya habis dimakan ulat / tikus.
e.  Laki - laki tidak boleh bekerja di dapur karena menurunkan derajat laki-laki.
f.  Laki - laki (suami) tidak boleh memegang Alat - alat masak. Hal ini menandakan suami tidak percaya kepada istrinya.
g. Tidak boleh memukul anak-anak dengan alat-alat masak seperti sendok dan sebagainya, hal ini menyebabkan anak tersebut menjadi bodoh.
Lambat laun ritual Pemahaman tentang Rumah Adat Bugis Makassar ini telah terkikis, Begitupun Upacara Adat Menre Bola (Makassar : Nai’ Balla) ini sudah banyak ditinggalkan oleh masyarakat pendukungnya karena sudah kurang yang memahami esensi dan tata cara pelaksanaannya, Begitu pula pemahaman tentang Dapur dengan segala etika yang harus ada didalamnya sudah terlupakan.
Saat ini yang banyak kita saksikan apabila ada pembangunan rumah adat (rumah kayu) atau rumah modern (rumah batu), masyarakat melaksanakannya cukup dengan acara syukuran saja dengan mengundang berbagai kerabat dan handai taulan. Meski begitu, semoga tulisan ini bermanfaat, paling tidak mengingatkan budaya dan tradisi yang hilang atau terlupakan itu. (*)






ichankjuradi(c)

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar