Kamis, 26 Juli 2012

Sejarah Masuknya Islam Di Sulawesi



 

 

 

 

 

Konon ketika Khatib Sulaiman tiba di Kerajaan Gowa Tallo pada awal abad ke-16 ia bersama Khatib Bungsu dan Khatib Tunggal yang berasal dari Minangkabau telah menyebarkan agama Islam pada penduduk setempat. Meski demikian ketiganya juga mencoba untuk mengislamkan kalangan kerajaan, utamanya raja Gowa dan Tallo. Namun mereka menemui kendala yang cukup besar. Akhirnya mereka memutuskan untuk mencari daerah atau kerajaan lain utuk menyebarkan agama Islam.

Sebelum ketiganya pergi, mereka teringat akan pesan dari raja di Pulau Kalimantan yang sempat mereka singgahi ketika menuju Pulau Celebes. Ketika itu sang raja menyarankan jika ingin menyebarkan agama Islam di jazirah Sulawesi, maka yang harus mereka lakukan terlebih dahulu adalah mengislamkan raja Luwu. Karena menurut sang raja, Luwu merupakan kerajaan yang tertua dan yang disegani di jazirah Sulawesi.

Akhirnya mereka sepakat menuju ke Luwu bersama-sama. Datu Luwu yang berkuasa saat itu adalah La Pattiware Daeng Parabung (1587-1615). Mereka pun berlabuh di sebuah desa yang bernama Lapandoso, sesampainya di sana mereka lalu dipertemukan dengan Tandi Pau (Maddika Bua saat itu). Setelah melalui perbincangan yang panjang, akhirnya Maddika Bua mau menerima agama yang dibawa oleh ketiga Khatib tersebut asalkan tidak diketahui oleh sang Datu karena ia takut durhaka bila mendahului sang Datu.

Sebelum ketiganya berangkat ke Pattimang (pusat kerajaan Luwu waktu itu), ketiganya bersama masyarakat setempat membangun sebuah masjid di desa Tana Rigella. Setelah mengislamkan penduduk Bua waktu itu, ketiganya pun diantar oleh Maddika Bua menuju Pattimang menghadap kepada sang Datu. Sesampainya di sana, mereka pun dipertemukan dengan Datu dan memberitahukan maksud kedatangannya untuk menyebarkan agama Islam. Sang Datu pun meminta penjelasan kepada ketiga Khatib tersebut mengenai agama yang mereka bawa. Mendengar penuturan tamunya, Datu hanya tersenyum, ia memang sangat tetarik dengan agama yang diperkenalkan oleh ketiga Khatib itu. Apalagi konsep ketuhanannya hampir sama dengan konsep ketuhanan masyarakat Luwu..

Namun sang Datu tidak begitu saja mempercayainya. Datu Luwu pun bermaksud menguji kemampuan Khatib Sulaiman selaku pimpinan rombongan. Ia menganggap orang yang membawa agama yang besar pastilah memiliki kekuatan yang besar pula.. Datu Pattiware pun mengemukakan keinginannya tersebut kepada Khatib Sulaiman, sang khatib pun meluluskan keinginan sang Datu. Sesuai dengan kesepakatan, apa pun yang dilakukan sang Datu juga harus dilakukan oleh Khatib Sulaiman begitupun sebaliknya. Dan apabila Khatib Sulaiman sanggup melakukan semua yang dilakukan sang Datu, maka raja dan seluruh masyarakat Luwu akan memeluk agama Islam, namun jika tidak maka keduanya harus meninggalkan Tana Luwu.

Tibalah saatnya pertarungan kekuatan dilaksanakan, masyarakat pun berbondong-bondong mendatangi lapangan dekat istana yang akan dijadikan sebagai arena pertarungan. Peralatan pertarungan pun telah disiapkan. Untuk pertarungan pertama, mereka diharuskan menyusun telur yang telah disiapkan sampai habis. Sesuai dengan kesepakatan, sang Datu lah yang terlebih dahulu maju. Dengan tenang, ia mengambil telur-telur tersebut dengan tangan kirinya dan meletakkan di tangan kanannya hingga melebihi tinggi pohon kelapa. Kini tiba giliran Khatib Sulaiman, dengan membaca basmalah ia mulai mengambil telur-telur itu dan menaruhnya di tangan kanannya seperti yang dilakukan oleh sang Datu. Rakyat Luwu yang menonton seolah tidak menyangka Khatib Sulaiman dapat melakukan hal yang sama dengan raja mereka. Bahkan sang Khatib menarik beberapa butir telur yang berada di tengah-tengah tanpa ada satupun telur yang jatuh. Melihat hal itu, sang Datu pun melakukan hal yang sama tanpa ada satu pun butir telur yang jatuh. Karena sang khatib mampu melakukan apa yang dilakukan oleh raja maka pertarungan kembali diteruskan.

Kali ini dua buah ember yang berisi air telah diletakkan di atas sebuah meja. Adu kekuatan kali ini adalah membalik ember tersebut tanpa menumpahkan isinya. Sang datu pun terlebih dahulu maju, dengan tenang ia pun membalik ember berisi air itu tanpa menumpahkan airnya sedikitpun. Tiba giliran Khatib Sulaiman untuk melakukan hal yang sama dengan terlebih dahulu meminta izin kepada sang raja. Dengan mengucapkan basmalah, ia pun dapat melakukan hal yang sama dengan yang dilakukan oleh sang Datu, bahkan ia dapat membelah air yang telah berbentuk cetakan itu dengan hati-hati. Melihat kejadian itu, sang Datu kembali maju dan melakukan hal yang sama.

Adu kekuatan diantara keduanya terus berlangsung dan seperi biasa diantara keduanya tidak ada yang kalah dan menang sampai matahari telah berada di atas kepala. Pertarungan pun dihentikan sejenak, ketiga Khatib itupun mengambil air wudhu dan melakukan shalat seraya berdoa memohon petunuk kepada Yang Maha Kuasa.

Setelah melaksanakan shalat, Khatib Sulaiman menghampiri Datu Pattiware dan mengatakan kalau kekuatan mereka seimbang, diantara mereka tidak ada yang menang maupun kalah. Sang Datu pun bertanya, hal apa lagi yang bisa membuat ia percaya dan memeluk agama Islam?

Lantas sang khatib meminjam cincin raja Pattiware, ia lalu menuju dermaga sambil membawa cincin tersebut diikuti oleh raja dan masyarakat. Setibanya di dermaga, ia lalu melemparkan cincin tersebut dengan sekuat tenaga, wajah raja pun memerah namun Khatib Sulaiman mampu meredam kemarahan sang raja dan masyarakat. Sang Khatib lalu mengatakan kepada sang raja kalau cincin yang kini berada di laut insya Allah akan kembali dalam waktu satu purnama atau bahkan bisa lebih cepat.

Mendengar ucapan sang Khatib, Datu Pattiware benar-benar bingung, hal yang dialakukan oleh sang Khatib kali ini benar-benar tak sanggup dicerna oleh nalarnya. Ia lalu berkata kalau cincin itu benar-benar kembali, maka ia dan seluruh rakyat Luwu akan memeluk dan menjadikan Islam sebagai agama kerajaan, kalau tidak kepala mereka akan dipenggal karena telah berbuat lancang. Ketiganya kemudian ditahan sampai cincin itu kembali.

Waktu terus berlalu, hingga tiba-tiba ada laporan bahwa cincin itu telah kembali dan berada dalam perut ikan yang besar. Lantas sang raja pun pergi ke dapur kerajaan untuk melihat kejadian itu. Ia sungguh tidak menyangka kalau cincinnya yang pernah dibuang Khatib Sulaiman telah kembali dan berada di dalam perut ikan. Sang raja lalu menanyakan darimana ikan itu di dapat oleh sang juru masak.

Sang juru masak mengatakan kalau tadi pagi ada seorang nelayan yang memberikan ikan tersebut kepada raja sebagai ungkapan syukur karena hasil tangkapannya banyak.

Sang Raja lalu memanggil ketiga Khatib yang ditahan tersebut dan mengatakan kesediaannya untuk memeluk agama yang mereka bawa seperti janji yang telah ia katakan sebelumnya. Ketiga khatib tersebut sujud syukur karena telah melalui tantangan terbesar dalam mengislamkan jazirah Sulawesi.

Setelah mendapat izin dari raja, ketiganya lalu berangkat mengislamkan daerah lain di jazirah Sulawesi. Setelah melaksanakan tugasnya, Khatib Sulaiman kembali ke Tana Luwu dan menetap hingga akhir hayatnya dan diberi gelar Dato’ Pattimang karena ia dikuburkan di desa Pattimang, sedangkan Khatib Bungsu menetap di Bulukumba dan diberi gelar Dato’ ri Tiro dan Khatib Tunggal menetap di kerajaan Gowa dan Tallo dan diberi gelar Dato’ ri Bandang.

Beni Sjamsuddin Toni (Admin Wija To Luwu)
Disadur dari berbagai sumber


 Sumber :  http://wahyudi-mustamin.blogspot.com


ichankjuradi(c)

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar